Bahasa dan Budaya dalam Perjalanan Hidup

Terlahir di kuala sebuah kota kecil di Kabupaten Langkat Sumatera Utara membuat saya hidup dalam budaya nasional. Mengingat lingkungan sekitar tempat tinggal merupakan lingkungan yang majemuk ada tionghoa, melayu, karo, jawa, maya-maya. Keadaan ini sangat mempengaruhi saya dalam penguasaan Bahasa dan Budaya dalam sepanjang Perjalanan Hidup.

Walaupun saya lahir dari rahim dengan etnis jawa yakni ibunda Sani tepatnya mamak sani dengan bapak Paimun Saslan tidak serta merta membuat saya mengenal budaya dan bahasa jawa. Saya justeru lebih akrab dengan bahasa karo dan tionghoa. Bahasa jawa justeru saya kuasai justeru saat menjalani pendidikan di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (SPTPDN) Bandung. Dalam pendidikan bahasa sunda sekaligus menjadi bahasa yang digunakan mengingat di asrama saya lebih sering berkomunikasi dengan petugas dapur dan kebersihan Menza (ruang makan asrama). Walaupun kedua bahasa baik jawa dan sunda tersebut masih bahasa yang kasar. Ada kesenangan tersendiri saat dapat menguasai bahasa daerah lainnya.

Penugasan pertama di Kabupaten Simalungun membuat saya semakin termotivasi untuk mempelajari budaya Simalungun. Jabatan pertama sebagai kepala Urusan Pembangunan di Kecamatan Dolok Silau (Kecamatan yang terletak di ujung atas Kabupaten Simalungun dan langsung berbatasan dengan Tanah karo dan Deli serdang) membuat saya menjadi belajar dengan cepat bahasa Simalungun. Walaupun sedikit berbeda logatnya dengan bahasa simalungun yang lazim digunakan di daerah Pematang Raya (ibukota Kabupaten Simalungun). Hal ini mengingat sebagian besar masyarakat kecamatan Dolok Silau adalah beretnis Karo sehingga bahasa Simalungun mengalami adaptasi dengan bahasa karo. Bahkan dalam sehari-hari lebih sering bahasa karo yang dipergunakan masayarkatnya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga semakin mengasah bahasa karo yang yang miliki.

Suatu berkah dapat ditugaskan di Kabupaten Simalungun yang begitu terbuka dengan adat budaya lainnya, termasuk dengan adat budaya jawa. Ternyata keterbukaan Masyarakat Kabupaten Simalungun telah dimulai dari jama kerajaan, dimana salah satu kerajaan di Simalungun bernama kerajaan Tanah Jawa. Tidak heran jika banyak fenomena kedekatan budaya simalungun dan Jawa. Bahkan secara kependudukan di kabupaten Simalungun, penduduk terbesar adalah etnis Jawa disusul Batak Toba baru Simalungun. Masyarakat hidup dengan rukun, aman dan damai dalam kemajemukan budaya di Kabupaten Simalungun. Lihat juga tulisan kedekatan budaya Jawa dan Simalungun

Semoga Kabupaten Simalungundapat menjadi miniature Indonesia dalam hal kerukunan hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan beragama.
Share on Google Plus

About Afdoli ApMsi

Bukan Siapa-siapa, Bisa Jadi Siapa Saja, Untuk Siapa Saja. Simalungun BangKIT (berkemBang dengan Kreatif penuh Inovatif menjadi Terbaik) menuju Indonesia Baru Afdol melalui Cara Indonesia Bangkit dengan Sahabat Indonesia berubah.
Komentar facebook
0 Komentar blog

0 komentar :

Posting Komentar