Bermodal Brosur untuk Calon Bupati Simalungun

Awal bergerak maju sebagai Bakal Calon Bupati Simalungun adalah membuka cara pandang baru masyarakat terhadap pilkada. Pilkada bukanlah pesta demokrasi yang identik dengan bagi-bagi uang dan rezeki yang ujung justeru menyengsarakan masyarakat lima tahun kedepannya. Pilkada adalah sarana masyarakat untuk memilih pemimpinnya yang tepat dan terbaik untuk membawa daerahnya menjadi lebih baik dengan masyarakatnya yang mandiri, maju dan sejahtera.

Tahun 2012 awal mulai bergerak untuk mengenal konsep pemilihan murah, terkait dengan pemilihan legislative dan pemilihan presiden. Nyatanya pemilihan legislative justeru sangat kental dengan warna money politik. sudah rahasia umum jika ada daerah yang seluruh anggota legislatifnya menggunakan kekuatan uang agar masyarakat memilihnya. 

Hal ini tidak menyurutkan niat untuk kembali menggugah masyarakat Kabupaten Simalungun untuk lebih berpikir lebih jernih dalam memilih calon Bupati Simalungun 2015-2020. Melalui Brosur Cara Simalungun Bangkit melalui Konvensi Rakyat Simalungun (KORAS) saya mengenalkan Pilkada murah melalui Calon Bupati Simalungun melalui jalur perseorangan. Calon Bupati tidak kita bebani dengan biaya pilkada yang besar. Dimana syarat KTP kita kumpulkan, survey pilkada kita bantu dan lainnya kita fasilitasi agar biaya dapat ditekan.
Bermodal Brosur untuk Calon Bupati Simalungun - cara simalungun bangkit

Awal Bulan November 2014 Ditengah ketidakpastian peraturan tentang pilkada dengan bermodalkan brosur Cara Simalungun Bangkit melalui Konvensi Rakyat Simalungun (KORAS) saya mulai road show ke berbagai wilayah di kecamatan dan nagori. 

Maksud hati ingin mengalang persatuan kawan-kawan, arah justeru mengarah untuk mengharapkan saya untuk maju sebagai calon Bupati Simalungun 2015. Padahal dalam brosur tersebut posisi saya sebagai contoh barang dan tidak mencalonkan diri, namun jika didukung dan dipilih siap. Hal ini sejalan dengan motto saya Jangan Pilih Afdoli jika mengharapkan Uangnya karena anti politik uang. 

Setelah hampir 2 bulan berjalan, aspirasi untuk saya ikut saja sebagai calon memaksa saya juga harus siap secara pribadi. Saya pun meminta restu kepada mamak, izin kepada Istri dan mohon do’a dari anak-anak. Karena selama ini berjalan belum pernah menyampaikan maksud dan tujuannya secara jelas. Apalagi untuk maju dalam pilkada saat ini, bagi PNS wajib mengundurkan diri. Mamak hanya mengizinkan maju sebagai calon bupati simalungun jika pension, sedang istri tidak mengizinkan jika hanya pension apalagi berhenti. 

Ditengah tidak tahu berbuat apa, saya tetap berjalan mengenalkan konsep konvensi Rakyat Simalungun. Toch kalaupun saya gak bisa maju sebagai calon bupati khan dukungan KTP memang dipersiapkan untuk orang yang terpilih melalui konvensi. Terlalu banyak suka duka dalam perjalanan mengenalkan konsep konvensi baik dari dukungan rekan-rekan maupun financial yang terbatas. Mungkin secara khusus tulisan berkenaan dengan itu dapt dikembangkan. Hingga akhirnya saya dipaksa berhenti untuk mensosialisasikan diri dari orang yang dihormati, dan berujung pada pengajuan uji UU Pilkada di MK.

Semoga Kabupaten Simalungun mendapat pemimpin, bupati yang adil, merakyat dan komitmen terhadap daerahnya, begitu juga daerah propinsi, Kabupaten dan Kota lain sehingga pada akhirnya membawa Indonesia pada kebangkitan dengan nuansa baru dengan masyarakat dan pemimpin mau sama-sama berubah untuk sebuah negari yang aman makmur sejahtera.
Share on Google Plus

About Afdoli ApMsi

Bukan Siapa-siapa, Bisa Jadi Siapa Saja, Untuk Siapa Saja. Simalungun BangKIT (berkemBang dengan Kreatif penuh Inovatif menjadi Terbaik) menuju Indonesia Baru Afdol melalui Cara Indonesia Bangkit dengan Sahabat Indonesia berubah.
Komentar facebook
0 Komentar blog

0 komentar :

Posting Komentar