Cerita Lucu Persidangan MK berubah Malu, Gusar, Takut, Grogi dan Bingung

Sebelum membacanya cerita ini, ada baiknya, kawan-kawan siapin dulu kopi atau teh dan biar tambah enak tambah susunya, jadi gak terasa lama membacanya, maklum agak panjang. Kayak cerpen (cerita pendek) ech cerbuntu (cerita bersambung jadi satu) kali.. ya.. !

Lucu mungkin menurut saya, Persidangan hari ini tanggal 21 Mei 2015 dimana ini adalah sidang ke 3 gugatan pemohon terhadap UU pilkada kepada Mahkamah Kontitusi. Namun dikatakan lucu juga enggak karena hal itu membuat diri saya gusar dan menjadi grogi saat menyampaikan pendapat kepada ketua Majelis Hakim MK. Aneh ya, lucu tapi membuat gusar dan grogi dan takut. Agak saya runut ceritanya ya..

Persidangan ketiga ini pemohon menggunakan fasilitas teleconference yang disediakan MK di Fakultas Hukum USU Medan seperti halnya sidang ke dua. Oleh karenanya cukup membantu untuk saya karena dapat menghadiri persidangan tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar. Untuk itu saya sebagai pemohon terlebih dahulu mengucapkan terima kasih kepada MK dan ucapan terima kasih juga kepada USU melalui Dekan Fakultas Hukum USU yang telah memberi kesempatan kepada pemohon untuk menghadiri persidangan melalui teleconference.

Ternyata sidang kali ini dilakukan secara marathon dengan menggabungkan 8 permohonan dengan pokok perkara lainnya yang berkenaan dengan UU Pilkada. Adapun persidangan ini terdiri atas perkara no 33, 34, 37, 38, 42, 46, 49, 51 /PUU-XIII/2015. Kebayang penggabungan sidang sehingga persidangan yang dimulai pukul 11.00 WIB harus berakhir pukul 14.00 WIB. Maklum kebiasaan serapan pagi jam 7 diabaikan karena mengejar waktu. Sementara 3 Jam harus menjalani sidang diwaktu tengah hari dengan perut yang kosong. disamping gelisah karena perut yang sudah keroncongan, gelisah juga karena menahan sesuatu ingin ke kamar mandi.

Karena ini adalah persidangan pertama dengan ramai orang, untuk permisi saya segan. Namun ketika dilayar (kebetulan teleconference jadi kita melihat dari layar televisi yang disediakan) saya melihat bang Ramdansyah permisi keluar dan diikuti salah satu kuasa hukum. Saya lihat mereka permisi dengan menundukan kepala dan keluar.

Melihat hal itu saya juga melakukan hal yang sama, berdiri lalu menundukan kepala lalu balik kanan menuju kamar mandi. Saat itu persidangan sedang mendengarkan keterangan ahli Prof Harjono untuk perkara nomor 33, 34/PUU-XIII/2015. Setelah selesai dari kamar mandi saya bingung kog layar sudah pada kosong, apa sudah selesai persidangan.

Begitu saya duduk dimeja petugas operator teleconference Bang Andri menyampaikan: “ Bang, nomor perkara abang nomor 45?”

Saya menjawab:” bukan bang, nomor perkara kita, nomor 46. Kalau 45, sepertinya gak ada bang. Yang ada 41 sama 49.”

Bang andri menjelaskan :” selesai bapak yang tadi ngomong dipodium, Hakim tadi manggil nomor 45, karena gak menjawab. Hakim ngomong, Mana pemohon 45, wach gak serius ini pemohon. Istirahat makan siang kita dulu, sidang diskor. Uka-uka juga kalau gitu bang.”

Saya menjawab kembali :” kita mungkin ya, bang. Atau bang Ramadansyah ya, kalau gak salah nomor perkaranya nomor 49.” Karena sama-sama gak tahu berapa lama sidang diskor, saya mengajak bang andri makan dikantin aja, biar dekat.

Sambil jalan karena dilihat agak berpikir-pikir, bang andri menghibur saya:” udah bang, mudah-mudahan bukan nomor perkara abang yang dichek tadi. Dan kalaupun nomor abang, kha ada hikmahnya peserta sidang bisa istirahat makan siang. Kalau gak mau jam berapa lagi mau makan. Abang lagi, duduk tekun disitu udah 2 jam setengah gak minum, gak bisa merokok lagi.”

Saya menjawab:” iya mudah-mudahan, bang. Saya Cuma takut jangan gara-gara permisi kamar mandi tadi, gugatan jadi di kalahkan. Khan gak enak, gara-gara gak sabar nahan buang air kecil.”

Akhirnya kami makan dengan buru-buru agar tidak ketinggalan sidang. Begitu selesai masuk ruang sidang teleconference saya lihat masih kosong. Sholat aja dulu diruang ini, (pikir dalam hati). Begitu ambil wudhu sambil menenteng sepatu, ternyata sudah ada panggilan bagi semua pemohon untuk masuk ruangan sidang. Akhirnya langsung pakai sepatu lagi langsung duduk di meja teleconference. Begitu sidang dimulai, selesai hakim mencabut skor. Hakim langsung menanyakan:” pemohon no 46 hadir?”

Saya menjawab :” siap, hadir yang mulia.”

Hakim kembali bertanya :” tadi kemana?”

Saya menjawab:” maaf Yang Mulia, saya tadi kekamar mandi.”

Hakim kembali bertanya:”kog, tidak permisi.”

Saya menjawab :”Siap, sudah tadi Yang Mulia.”

Hakim sambil senyum melanjutkan persidangan untuk memberi kesempatan ke ahli yang ke-3. Dan berlanjut hingga Prof Saldi Isra sebagai ahli ke-4. Dan saling berganti pertanyaan. Kembali hakim bertanya:” Pemohon nomor 46 masih hadir.”

Saya langsung menjawab:” siap, hadir yang Mulia.”

Hakim menjawab:”seperti ada suara, apakah pemohon nomor 46 masih hadir.”

Saya langsung menjawab kembali:” siap, hadir yang Mulia.” (dalam hati bertanya, berarti saat ini masih teleconference suara saja, tidak seperti teloconference pertama langsung bisa saling melihat. Ini berarti saya bisa melihat persidangan , sementara hakim tidak dapat melihat saya.. Berarti saya permisi tadi gak dilihat hakim, nich.. gaswat juga nich.. hehe. Mudah-mudahanlah hakim tetap adil dan bijaksana, gak mungkinlah mengambil keputusan hanya gara-gara permisi ke kamar mandi tadi)

Terakhir saya diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Maksud hati ingin menyampaikan lengkap terkait dari DPR dan Presiden hanya memberikan jawaban hanya 1 dari pokok perkara yang saya ajukan sementara ada 4 ditambah 1 petitum provisi yang perlu segera diputuskan, dan rencana ahli yang saya rencana undang adalah Bapak Prof. Runtung Sitepu, dekan FH USU yang juga kandidat Rektor USU (sebelum sidang saya sempat diskusi dengan beliau, sepertinya beliau antusias dengan materi gugatannya, bisalah nanti PDKT untuk dilobi sebagai saksi ahli). Namun karena udah malu, campur takut dan gusar akhirnya jadi grogi, akhirnya yang disampaikan hanya petitum provisinya.

Setelah sidang dilanjutkan dengan tanya jawab, diakhiri hakim ketua menyampaikan bahwa persidangan selanjutnya dilaksanakan tanggal 1 Juni 2015 dengan acara mendengarkan saksi ahli dari perkara nomor 34, 37 dan 38. Lalu seorang pemohon interupsi untuk izin tidak hadir dipersidangan berikutnya karena ada persidangan lainnya. Lalu hakim menutup persidangan dengan mengetuk palu tiga kali. Akhirnya saya bingung, loh saya ikut sidang lagi apa tidak. Wach gak asyik nich pulang dengan hati Bingung. Mana lagi sidang malu karena gak sabar harus kekamar mandi, gusar dan takut gugatan ditolak, penutup sidang jadi grogi, ech masak pulang dengan bingung. 

Akhirnya diskusi dengan kawan LSM hukum yang sering bolak balik pengadilan dan kebetulan sebelumnya dia terus mendampingi. Ech malah tambah bingung dia malah menyalahkan menyatakan :” kenapa yang dipertegas hanya petitum provisinya aja. Kenapa gak PNSnya lagi pertegas, karena permohonan yang tiga itu karena gak dijawab DPR dan presiden, maka keputusan tinggal di Hakim MK. Buatlah hakim mengabulkan mengabulkan yang tiga, tapi tentang PNS tetap harus mundur khan uwak (panggilan akrab di medan) gak bisa calon juga.”

“iyalah, uwak. Amanlah itu, kalau rezeki gak kemana” jawab saya sambil menghibur diri.

Gak puas dengan itu saya diskusi denga ahli luar dalam pengadilan juga, beliau nyampaikan:”Bagus itu, yang disampaikan adalah pokoknya, kalau yang lain entar ngikut itu. Kalau gitunya jalan persidangan, mudah-mudahan menanglah itu. Udah nyantai aja, siapkan aja langsung kenderaan biar bisa maju pilkadanya.” Akhirnya dapat pulang dengan senyuman setelah malu campur, gusar, takut dan bingung. (tapi lucunya dimana .. ya). Yang penting pulang sudah bisa senyum optimis. Semoga terbuka pintu kemenangan. Merdeka!!!
Share on Google Plus

About Afdoli ApMsi

Bukan Siapa-siapa, Bisa Jadi Siapa Saja, Untuk Siapa Saja. Simalungun BangKIT (berkemBang dengan Kreatif penuh Inovatif menjadi Terbaik) menuju Indonesia Baru Afdol melalui Cara Indonesia Bangkit dengan Sahabat Indonesia berubah.
Komentar facebook
0 Komentar blog

0 komentar :

Posting Komentar