Indahnya Masa Kecil

Menarik memang jika berbicara tentang yang indah-indah. Apalagi jika mengingat masa kecil yang mengantar pada penemuan jati diri kita hari ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa yang terjadi pada diri kita hari ini adalah buah dari masa lalu.

Terlahir sebagai anak pertama dari enam bersaudara dari seorang bapak yang berprofesi PNS dengan jabatan guru sekolah tidak serta merta tidak menjadikan kehidupan yang berkecukupan. Karena Guru pada waktu di tahun 80-an tentu jauh berbeda dengan guru pada saat ini. Sekarang guru telah lebih diperhatikan masalah kesejahteraannya baik mulai tunjangan profesinya hingga sertifikasi. Sehingga guru saat ini bisa lebih fokus pada mendidik siswa tanpa harus dipusingkan dengan beban biaya hidup keluarga. Berbeda dengan keluarga saya yang untuk menghidupi keluarga harus dibantu ibu dengan membuat panganan untuk di jual. Kami sebagai anak-anak juga tidak berpangku tangan kepada orang tua.

Sejak kecil sudah dibiasakan untuk mandiri dan membantu ibu yang kebetulan berjualan dan menitipkan dagangan. Sekitar SD kelas 3 saya beserta adik sudah mulai berjualan keliling menjajakan makanan berupa goreng-gorengan seperti pisang goreng, bakwan dan lainnya termasuk sate jengkol menu utama jualan. Siang setelah pulang sekolah saya beserta rekan-rekan sudah bersiap membawa keranjang jualan, kebetulan satu lingkungan ada sekitar 7 orang yang sama-sama berjualan. (Namun sayang rata-rata kawan-kawan sekitar jarang yang sekolah tinggi cukup tamat SD, SMP dan SMA) Masing-masing langsung berangkat berjulan keliling baik ke pajak (orang sumut menyebut pajak sebagai pasar atau tempat bertemu pembeli dan penjual), rumah kerumah hingga sekolah-sekolah yang masuk siang. Sore hari menjelang magrib mengantarkan catering makan malam dari sebuah rumah makan di pusat pajak ke pelanggannya. Kegiatan ini rutin dikerjakan hingga kelas 1 SMP.

Setelah SMP mengingat tuntutan ekonomi semakin tinggi, ibu pun memutuskan untuk berjualan serapan pagi di pajak. Praktis sebelum berangkat sekolah pagi, selepas subuh saya juga ikut menyiapkan dagangan dan tempat di pajak. Jika masih ada waktu saya sempatkan untuk mengangkut belanja orang-orang yang meminta bantuan. Boleh dikatakan seperti kuli angkut di pajak. Karena sudah akrab dengan kondisi pajak, selepas pulang sekolah, siangnya saya menjemput dagangan ibu. Dan jika ada kerjaan apa saja di pajak tentu menjadi buruan untuk uang saku sekolah. Kegiatan ini rutin dikerjakan hingga tamat SMA, hingga tidak heran jika saat ini sedang pulang ke kampung masih akrab dengan suasana pajak pagi dan selalu saya sempatkan untuk singgah ngobrol dengan kawan-kawan di pajak.

Indahnya masa kecil ini yang terus memberikan motivasi kepada saya untuk selalu berusaha untuk berbuat yang terbaik. Walau terkadang terkesan aneh dan beda bahkan terkadang terkesan radikal hingga tidak sedikit menyebutnya gila. Tapi itulah membuat hidup kita menjadi hidup. Hambatan dijadikan semangat, tantangan dijadikan motivasi. Tidak heran jika pilkada yang identik dengan uang dan modal besar menjadikan semangat bagi saya untuk mengubah paradigma itu. Modal besar yang dikeluar calon berbanding lurus dengan keruwetan penyelenggaraan pemerintahan yang akhirnya masyarakat yang menjadi korban.

Semoga semangat ini dapat berkibar dalam pilkada Simalungun dalam rangka pemilihan calon Bupati Simalungun 2015-2020.
Share on Google Plus

About Afdoli ApMsi

Bukan Siapa-siapa, Bisa Jadi Siapa Saja, Untuk Siapa Saja. Simalungun BangKIT (berkemBang dengan Kreatif penuh Inovatif menjadi Terbaik) menuju Indonesia Baru Afdol melalui Cara Indonesia Bangkit dengan Sahabat Indonesia berubah.
Komentar facebook
0 Komentar blog

0 komentar :

Posting Komentar