Kisah Puasaku Dulu

Kisah Puasaku Dulu berakit kehilir
Ilustrasi : berakit dengan batang pisang. foto : anak jakarta (okezone)

Aneh Puasa tahun ini, saya seperti diajak kembali ke masa-masa bulan ramadhan saat masih anak-anak. Tepatnya di sebuah kota kecil di kabupaten Langkat yakni kuala sekitar tahun 1980-an masa-masa masih duduk di sekolah dasar. Puasa ramadhan begitu menyenangkan, karena hari-hari banyak diisi dengan kemeriahan dan kegembiraan. Mulai dari sahur hingga salat malam begitu terasa kebersamaan dengan para sahabat.

Pada masa kecil waktu sahur diisi dengan kemeriahan dengan kawan-kawan keliling rumah-rumah untuk membangunkan sahur. Dengan bermodal kentongan, kaleng-kalengan dan teriakan untuk membangunkan para keluarga untuk bangun sahur. Yang dibangunkan juga merasa senang karena tidak ketinggalan waktu sahur. Tidak jarang jika ada rumah yang terlewatkan keesokannya sang pemilik protes karena tidak dibangunkan.

Yang membuat semangat dalam berpuasa tentunya adalah menu makanannya. Sewaktu sahur menu di meja lebih menggiurkan dari pada hari biasanya. Dengan alasan biar ntar tahan puasanya jadi menu makanannya lebih spesial. Untuk makan sahur agar untuk cepat-cepat jangan sampai kedengaran bunyi sirene tanda imsak. Maklum dulu untuk mengetahui waktu imsak di kampung kelahiran dulu lewat bunyi sirene melalui mesjid atau melalui radio. Begitu mendengar suara sirene, makan sahur langsung disudahi dan persiapan menuju masjid.

Suasana subuh juga cukup menyenangkan, karena setelah shalat subuh langsung anak-anak, remaja pada berhamburan. Biasanya berjalan-jalan keliling kota, atau kalau zaman dulu lebih dikenal dengan nama asmara subuh. Memang ini gak rutin diikutin, paling tiap tiap akhir pekannya. Selebihnya kadang meneruskan ngantuk yang tertunda alias tidur setelah sahur dan kegiatan rutinnya lainnya (secret). Hehe.

Siang hari, sepulang sekolah kegiatan yang menyenangkannya adalah bermain di sungai alias mandi-mandilah. Maklum kota kelahiran diapit oleh dua sungai besar yang indah dan jernih. Dulu sich, masih sering buat rafting lah kalau bahasa sekarang. Cuma kalau sekarang pakai kano atau perahu karet, dulu kita menggunakan batang pisang yang dirakit. Tidak heran suasana bermain di sungai terkadang bisa jadi ajang pembatalan puasa. Sambil menyelam minum air. Banyak juga teman2 udah buka tapi ngaku puasa sampai sore..Hehe. (tidak untuk ditiru)

Begitu juga ketika buka menu semakin spesial karena lebih beragam lagi dan lengkap seperti pidato karena hidangan pembuka, inti sampai penutup. Tentunya menambahkan semangat makan. Lagian memang dasar juga sudah lapar, semuanya terasa enak dan lezat. Apalagi menjelang berbuka, semua benda terbayang seperti makanan. Kegiatan jadi mondar mandir meja makan lihat menu bukaan. Disaat-saat seperti ini dua suara yang dinanti-nantikan yaitu beduk dan sirine. Kebetulan rumah agak jauh dari mesjid sehingga bunyi sirine yang menjadi andalan tanda buka puasa. begitu terdengar suara sirine langsung berhamburan menuju meja makan, melahap semua menu bukaan. Memang sungguh terasa nikmatnya berpuasa itu disaat berbuka. Tidak heran saking lahapnya, kadang lupa kalau lambung kita Cuma satu hehe.. berbukanya sampai kekeyangan. 

Shalat tarawih juga penuh kemeriahan karena sering diselingi dengan bermain-main. Dasar anak-anak, makanya senyum-senyum aja kalau sekarang lagi tarawih lihat anak-anak yang shalatnya sambil saling mengusili. Dan kemeriahan masih berlanjut hingga tadarusan, namun bukan yang membaca Alqurannya, tapi yang meriah ya disekitar menu tadarusan yang sengaja disisakan dari menu bukaan. Kalau soal asal makanan mungkin rata-rata sama yaitu makanan dari kiriman dari jamaah masjid.

Begitu kemeriahan dan kesenangan di bulan ramadhan mungkin hanya tinggal kenangan. Karena beberapa kegiatan itu mungkin tidak lagi sesuai dengan zamannya lagi seperti kegiatan membangunkan sahur. Maklum sudah banyak gadget yang bisa buat bangunkan tidur, dan mungkin sebagian masyarakatnya juga sudah menganggap hal itu menjadi kebisingan dari pada hiburan dan kegembiraan.

Dan banyak kebiasaan dulu yang dikerjakan ternyata justeru terbalik dengan aturan yang ada. sekarang baru sadar kalau dulu makan terburu-buru karena mengejar waktu imsak dalil agak lemah. Dan justeru waktu imsak itu adalah waktu yang berkah seperti halnya nabi Luth yang diselamatkan diwaktu sebelum fajar. Dan mungkin banyak lagi kisah barokah saat sebelum subuh, sehingga sayang justru ditinggalkan apalagi untuk tidur kembali. Begitu juga dengan berenang atau banyak main disungai memang disebut ulama makruh. Begitu juga pernah juga saya tinggal sahur karena merasa kuat untuk puasa, padahal pada sahur banyak keberkahannya. (lihat Keberkahan sahur dan waktunya)

Semoga kita dapat menggali hikmah yang ada disekitar kita untuk menambah berkah.

Share on Google Plus

About Afdoli ApMsi

Bukan Siapa-siapa, Bisa Jadi Siapa Saja, Untuk Siapa Saja. Simalungun BangKIT (berkemBang dengan Kreatif penuh Inovatif menjadi Terbaik) menuju Indonesia Baru Afdol melalui Cara Indonesia Bangkit dengan Sahabat Indonesia berubah.
Komentar facebook
0 Komentar blog

0 komentar :

Posting Komentar